Kamis, 08 Desember 2016

Day #11: Something I Always Think "What If.." About

What if my family didn't move from one town to another so often while I was growing up?

Buat kamu-kamu yang kenal saya agak lama pasti udah tau tentang hal yang satu ini: masa kecil saya diisi dengan hidup nomaden. Pindah-pindah kota, jadi 'kontraktor', gonta-ganti rumah kontrakan. Dulu saya lahir di Palembang, toddler period di Bandung, TK di Makassar, SD di Madiun dan Surabaya, kemudian kembali lagi ke Bandung ketika mulai remaja dan tetap di Bandung sampe lulus kuliah.  

Jadi sebenarnya kalo ada orang nanya "Kamu orang mana?", jawaban paling sesuai ya "Orang Bandung". Karena saya hidup di sana paling lama. But as much as I love the city, I never feel so attached to it. Hence the significant pause everytime the hometown question comes up. 

Kalo dipikir-pikir, salah satu dampak dari hidup nomaden adalah, saya sejak dini jadi terbiasa untuk tidak terlalu attached pada sesuatu. Pada apapun. Misalnya "Wah rumahnya enak ya, depan masih sawah, kalo pagi udaranya seger.." tapi habis itu kepikir "Yaudah sih ntar juga pindah lagi.." Atau "Wah di sini temen nya asik-asik ya buat diajak main.." tapi habis itu lagi-lagi "Yaudah sih ntar juga pindah lagi.." 

Ada positifnya sih. Saya jadi orang yang nggak posesif. Tapi ada negatifnya juga. Saya jadi orang yang nggak posesif. Lah kok sama. Haha.

Let me explain.

Ngga posesif yang positif itu berarti nggak gampang takut kehilangan. Apa aja, temen, 'temen', harta benda, dan sebagainya. Jadi ketika kehilangan sesuatu pun, saya bisa sedih sewajarnya, nggak lebay. Falsafah saya sih, if it meant to be stuck with you, it will be, if it didn't, it won't be. Toh semuanya juga cuma titipan.

Nah. Ngga posesif yang negatif itu maksudnya kurangnya rasa memiliki. Contoh gampangnya adalah.. saya nggak pernah seaktif itu di organisasi atau komunitas mana pun yang pernah saya cicipi. Jadi saya selektif. Misal waktu ikutan ekskul musik tradisional jaman SMA dan kuliah tingkat awal, saya rajin banget ikut latihan tapi giliran suruh jadi pengurus atau ikut acara danus saya raib. Mau disepet apa disindir pake keyword 'gak solid' juga ngga mempan. Haha.

So, what if my family didn't move around, what if I spent my entire childhood in one place? Would I have become a different kind of person from what I am now? 

Well maybe. Or maybe not. 

Maybe I would have been better at playing the piano, though. Saya waktu kecil les electone, keyboard, piano, tapi ya gitu on-off-on-off terus gegara pindah-pindah. Ganti-ganti pula kan instrumennya, mungkin dulu gegara nyari les-lesan yang paling deket rumah aja. Akhirnya semuanya malah terbengkalai. 

Maybe I would have been fluent in only one local language. Kayak temen-temen saya yang orang Jawa tapi born and raised di Bandung, jadinya gak bisa ngomong Jawa sama sekali, walau kalo dengerin orang ngomong mungkin mudeng.

Maybe.. what else? 

Ah yaudah sih berandai-andai kan tidak berfaedah. Toh nggak bisa memutar waktu juga. Da aku mah bukan Hermione. Bye.


Tidak ada komentar: