Selasa, 12 Januari 2016

An Email From Paris

Btw ini kejadian taon lalu.

Semua berawal dari suatu hari yang biasa aja di bulan November. Ke lab pagi, nyalain kompi, buka browser, liat email. Eh. Kok. Ada satu subject email yang lain dari biasanya.

[Flickr] From Paris, request about an image in Jakarta

Seumur2 kalo dapet email dari Flickr palingan cuma apdetan tentang postingan2 baru nya orang2 yang difollow. Tapi ini engga. Baca subject nya aja deg2an kan, from Paris, gile ngga sih gue udah go international banget bo, dikirimin surel ama orang Paris. Yaudah. Ketika dibuka:

Dear Aulia,

I would like to print an image you made in 2010 in Jakarta.
Could you write to me as soon as possible at mawar@monde-diplomatique.fr and we could exchange together in a better way.
Hope you receive this message!

Best regards
Mawar

Engga, nama asli dan alamat email pengirim disamarkan. Aslinya bukan Mawar.

Terus karena penasaran, saya baleslah si Mawar ini via email yang kira2 isinya kalau disederhanakan:

Eh emangnye elu pingin poto nyang mane?

Tidak dinyana, balesan berikutnya dari si neng Mawar cukup panjang dan to the point. Doi tunjukin foto mana aja yang doi mau. Kemudian doi menjelaskan bahwa surat kabar tempatnya bekerja lagi menggarap sebuah artikel (bocoran: artikelnya tentang 'genocide in Indonesia, 1965'), dan doi sebagai divisi art2 nya gitu (ini saya tau dari hasil stalking webnya si surat kabar) bertugas hunting foto yang mendukung si artikel. Dan ternyata beberapa hasil jepretan saya yang doi temukan di Flickr berhasil meluluhkan hatinya(?). 

Di segmen berikutnya dia minta saya jelasin makna dari si foto dan sedikit2 nanya2 tentang hal2 terkait artikel yang lagi mereka garap. Kemudian dia bilang kalo si foto ini jadi dipublish, bakal dicantumin nama saya, tempat, dan tahun penjepretannya. Dia bahkan udah minta alamat buat ngirim cetakan suratkabarnya edisi yang ada si artikel itu, dan buat ngirim form pembayaran honor, which is kata dia 260 euro honornya. 

Saya? Reaksi saya gimana? Tercabik. Terharu sih hasil jepretan saya diapresiasi orang yang beneran kerja di surat kabar. Ya berarti seenggaknya layak nampang gitu lah ya. Duitnya juga lumayan. Tapi ga dikasi duit pun saya udah seneng klo nama bisa nampang di caption foto di koran. Kya kya kyaaa. Tapi di sisi lain, setelah si Mawar nyeritain si artikelnya tentang apaan, saya jadi melempem. Apa pasal? Jadi menurut saya isi si artikel dan apa yang ada di foto saya itu ga nyambung. Ingin rasanya berpantun joko sembung bawa golok tapi urung, si mbak Mawar ga bakalan mudeng. 

Yasudah. Akhirnya ya saya coba paparkan makna yang terkandung di balik si foto, dan saya biarkan dia menilai sendiri, kira2 cocok ngga si foto disandingkan dengan si artikel. Sebenernya sih kalo mau disambung2in ada hubungannya juga sih, tapi ngga langsung gitu. Yaa eike mah pinginnya jadi aja gitu dipasang, lumayan banget kan ini bisa jadi batu loncatan menuju femes(?). Sementara hati nurani meronta tidak mau membiarkan si mbak Mawar terjerumus memasang foto yang ga nyambung2 amat.

Jadi akhirnya saya mengisi akhir pekan dengan menunggu decision dari beliau. Ditunggu2, email tak kunjung datang. Ealah liat di internet ternyata di Paris lagi heboh bombing! Gak bakal diurus sih ini foto gue, ada berita yang lebih hot daripada si artikel yang tadi. Dan benar, baru tiga atau empat hari setelah pengeboman, email balasan pun datang. Intinya isinya bilang kalo dia udah nemu foto lain yang lebih cucok. Tapi dia bilang juga:

Less nice than yours, unfortunately.

Entah jujur entah hanya menghibur. It put a smile on my face.

Ujung2nya saya ga jadi nampang di koran bule. Tapi sebenernya pengalaman email2an dan bertukar pendapat dengan si neng Mawar ini pun udah suatu adventure tersendiri buat saya. Yeah you heard it right! Adventure! Ternyata saya bisa aja going on adventure tanpa perlu menggeser bokong dari kursi lab. 

Also, this made me experience something wonderful: that feeling when your work is appreciated. That's maybe the best feeling in this world. In my world.

Kamis, 22 Oktober 2015

Biskuit

Obrolan di sebuah chat room, sedikit lewat jam pulang kerja waktu Indonesia bagian barat.

A: Enak banget Lemonia. Tipis gitu kan biskuitnya, jadi gak enek. Trus kombinasi rasa lemon dan gula pasir itu enak banget.

F: Iya, terus biar udah makan banyak gak abis-abis. Jadi pengen Lemonia. Atau Coffee Joy, yang tipis tapi versi kopi.

A: Beli gih. Haha. Enak kan emang.

F: Iya enak. Makasih loh sugestinya.

A: Biskuit favoritku, Lemonia, Oreo, AIM biskuit. Tau ga AIM biskuit yang kecil2 trus ada rasa keju sama rasa jagung.

F: OREOOOO. Da best. AIM yg mana ya. Yang plastiknya transparan?

A: (gugling, nemu gambar di gugel images, save as, attach di chat room) 

F: Woiyaa. 

A: Kalo makan itu gabisa berenti.

F: Rekomen biskuit Korea dong.

A: Ah. The snacks here taste like bad jokes.

F: AIM mecinnya banyak tapi.

A: Justru itu yang bikin enak.

F: Iya sih. Tapi habis itu harus banyak minum.

A: Oh satu lagi. Biskuit Nissin yang rasa ayam.

F: Bentar gugling dulu ga inget itu yang mana.

A: Eh aku gugling kok ga ada yah. Jangan2 bukan Nissin mereknya. Kemasannya kuning. Biskuitnya mayan tipis, bentuknya segi enam memanjang.

F: Iya ga ada. Oh. Eh tapi lupa apa mereknya. Tapi tau bentuknya.

A: Pokoknya itu. Haha. Enak juga itu. Jadi biskuitnya ada bercak2 merahnya.

F: Iya itu enak. Berkat mecin. Thanks mecin.

A: I love you mecin.

F: Mecin is da real MVP.

A: Trus ada lagi yg enak tapi bukan biskuit, agak beda genre. Genji pie. Baik yang stroberi, raisin, maupun yg orijinal yg bentuk hati. I grew up eating those.

F: Genji hati. Terus makannya selapis2. Kalo dulu aku suka biskuit Trakinas. Pernah makan ga.

A: Pernah deh. Happening juga kan dulu itu. Sekarang udah ga ada.

F: Iya yg bentuk muka. Kenapa ya. Padahal mayan. 

A: Tapi buat aku itu enek. Biskuit yg ada tengahnya yg ga enek cuma Oreo.

F: Kalo aku sebenernya tertarik sama bentuknya. Judge a biscuit by its shape. 

A: Nggg baiklah.

F: Makanya biskuit kesukaan sepanjang masa itu... Tini Wini Biti!

A: Itu juga enak. Tapi aku lebih peduli sama bentuknya sih.

F: Tini Wini Biti is love. Tini Wini Biti is life.

A: Haha. Kalo dapet yg bentuk kura2, aku makan cangkangnya dulu, baru bawahnya.

F: Haha sama. Makan nya per bagian. Cuma yg gajah yg makannya ga asik. Udah jarang ya, belinya harus ke supermarket.

A: Iya udah ga usum. Ada lagi yg enak dan udah ga ada. Canasta.

F: Namanya akrab. Bentar gugling dulu.

A: Ga ada dong di gugel. Enak banget itu parah. Tipis gitu. Trus paling seneng kalo nemu yg bumbunya tebel.

F: Mungkin ketika hilang belum zaman internet. Aku ga inget pisan bentuknya kek apa. Walau namanya kenal.

A: Bentuknya segitiga. 

F: Haha kenapa kita jadi ngomongin biskuit jadul.

Kenapa coba. Hahaha.





F is an old friend of mine. We met in Junior High. We were in the same class for a certain period of time. Not long, but enough to find out that we have several similarities. And by 'several' I mean 'at least more than one'.

Similarity #1:
We loved Josh Groban. Probably we still do. Well I still do.

Similarity #2:
We love to write. Well, though I don't do it much, recently. But I do write facebook status almost regularly, so that still counts.

Similarity #3:
Panghegar-Dipati Ukur. Actually I could take Antapani-Ciroyom directly, but sometimes taking the scenic route instead of the express way wouldn't hurt(?).

We actually never really met in person or hang out together for a very long time, but we can still, occassionally, talk about random things or even sometimes about serious matters, with zero awkwardness.

It's like riding a bike. Once you can do it, you can do it for the rest of your life. No matter how long is your hiatus.

Hey F, if you're reading this, thanks for being there! And thanks for the very stimulating conversation about biscuits!

Minggu, 03 Mei 2015

Stuffs


Ada hal-hal yang memang sulit berubah. Contohnya, tiga benda yang dari dulu setia menghiasi jendela kamar saya: frame foto, semprotan air, botol beling isi air dan tanaman sirih-sirihan. 

Percaya ngga percaya, tanaman sirih-sirihan di botol beling itu masih tanaman yang sama yang pertama saya piara di kamar asrama sejak Agustus dua tahun lalu. Dia bertahan bukan karena saya telaten merawat, tapi memang sudah dari sananya robust. Semprotan airnya, itu saya beli dengan tujuan untuk nyemprot daun tanaman, daily. Walau realisasinya mungkin cuma saya lakukan sekali dua kali dalam satu semester. 

Frame foto itu seingat saya hasil tukar kado. Walau ingatan saya agak blur tapi kayaknya tukar kadonya sama anak-anak sekelompok waktu INKM, semacam orientasi di awal masuk kuliah, tujuh tahun yang lalu. Saya bawa ke sini dengan tujuan mau diisi foto, mungkin foto keluarga atau teman, terus dipajang, buat penyemangat. Realisasinya nol. Kenapa nol? Karena saya males ngeprint fotonya. Selain itu, saya ngga punya obeng buat buka sekrup di belakang frame nya. Sesederhana itu.

Intinya, walau hampir ngga ada fungsinya, tetap tiga benda itu yang pertama saya tata di jendela setiap pindahan kamar. I get used to see them there. Sebenarnya kalau saya buang tanamannya, toh ngga menarik dan udah tinggal dikit daunnya, atau frame nya saya simpan saja di lemari, toh ngga guna dipajang kan ngga ada fotonya, mestinya ngga masalah. Mestinya. Teorinya. 

Tapi kok ngga bisa ya. Saya sudah terbiasa. Kalau pulang ke kamar lihat jendela ngga ada mereka bertiga nangkring di situ, rasanya kok hampa. Lebay? Mungkin. Tapi manusiawi. Clingy itu manusiawi. Haha. 

Sometimes some things or some people are being part of your routine, part of your life, for so long, that not seeing them creates a noticable gap that makes your day incomplete. People will question, or even you will question yourself, why. Why keep them? Padahal sadar kalau mungkin dari awal ngga terlalu ada manfaatnya. Atau ada manfaatnya tapi transient, makin lama makin discharging. Atau dari awal bermanfaat, tetap bermanfaat, tapi makin kesini makin banyak prioritas lain yang lebih penting buat diurus.

So, again, why keep them? 

Well, to keep that gap filled. :D   

I guess, as long as it's harmless. Both for you and others around you. If it's harmful, of course, screw your feelings, use your brain, throw them away as soon as you can.

So... I guess I'm keeping my window decorations.
And maybe some other stuffs.

I know we all do, we keep stuffs. But it's okay.

It's okay. 

Rabu, 04 Februari 2015

Hello Again

So I guess this is the proper time to start writing again in English. Almost a full month spent for holiday break, back at home with family and friends, no need to speak English at all, made me dull. I realized this few days ago, when I was on a meeting with the big guy. It felt like I had it all gathered in my mind, but damn, the struggle was real when it came to expressing it in sentences. Yeah, so, here goes, English blog post. Way to start getting used to thinking in English again.

***
 
I don't even remember what did I write the last time I posted anything here.
Wait, let's take a peek.
Ah, right. I wrote things, research related. Nah, I'm not gonna do that now. Kinda rough days in lab, these days. Therefore, I decided not to bring any research related stuff during my time off.

So, how are things? Set aside the research thingy which is getting more complicated now that I'm in my fourth semester, things are good. I mean it. Good, as in 'finally I feel motivated enough to start being a man of habit'.
Or in my case, woman of habit.
Nah, man of habit sounds better.

What kind of habit are we talking about here? Well, for starter, eating habit. Have I told anyone that I gained 10 kilos already, compared to when I first came here to study? Probably I have. And now I told you all as well, beloved readers. So, yeah, as you might have expected, I'm getting a little plump here. Or a lot.

Back at home, I went to the gym nearby, the one where the two brothers of mine already became regulars. Did I exercise? Nope, just did some health check, and the conclusion is that, yeah, I definitely need to grow a better habit. Both in eating and exercising.

I was planning to go to nutrition specialist, but then stuffs going on, and finally I just didn't have time for it. However, when there's a will, there's a way! One day while taking a dump, I found and read this one book written by a doctor, Hiromi Shinya. Title was, the miracle of enzyme, or some sort. I found most of the contents interesting, and make sense for me to implement them.
 
Some points I noted:
  • Drink water around 1 hour before any meal. Eat fruit 30 minutes after that. Then have your meal. Usually people think that fruit is for dessert. Nope, it's the other way around.
  • Reduce your consumption of dairy products, or, just cut it all out.
  • Try to consume raw food, or, cooked but with shorter cooking time.

And etcetera. You will need to read the book yourself to know more. And no, I'm not paid to promote the book, haha. Plus, my dear mother added some more advices of hers: cut the carb, and eat fruit when you need snacking. Well, I need the carb, so I won't just cut it completely. I'm just going to cut it in a half. Also, fixed meal time is important. When should you have breakfast, lunch, and dinner. And even morning snack and afternoon snack time should be fixed. 
 
How is it going on until now? Well, fine, I guess. I'm getting used to it, and I kinda feel better. I try to wake up at the same time every morning as well. Go to lab at the same time and go back home at the same time. All these, the routine, slowly makes me more comfortable. Organized. The only thing left is the exercise part. It's still freaking cold these days, but I'm hopeful for warmer upcoming weeks, so I can start my regular jogging.
 
True, that defining how long one's gonna live is the privilege of God and God only. But what's so wrong about trying to live longer by having a more orderly and healthy life?

***

That's all, folks. Nice to finally get to greet you again. :)

 

Rabu, 27 Agustus 2014

Sekapur Sirih Tentang Photoacoustic Imaging

Tumben ngepost beginian, Ul? Mbok ben.

***

Photoacoustic imaging. Opo kuwi? Daripada bingung coba kita lihat per kata. Photo itu, berhubungan dengan cahaya. Acoustic, berhubungan dengan bunyi, atau gelombang mekanik (gelombang yang muncul akibat adanya gerakan/getaran) pada umumnya. Imaging, kata dasarnya image, gambar. Kalo digabung kurang lebih jadi gini: teknik mengambil gambar dengan bantuan cahaya dan gelombang mekanik. 

Still not helping, Ul. Oh tenang, I have plenty of time to explain this bit by bit.

Jadi sebenernya photoacoustic imaging ini adalah salah satu cara yang bisa dipake untuk mengambil gambar dari daleman tubuh kita. Jaringan-jaringannya gitu maksudnya. Cara yang lain, yang lebih duluan tenar, adalah X-ray. Tapi kali ini lupakan dulu X-ray, kapan-kapan deh dibahas juga kalo ada mood.

Mari kita singkat photoacoustic imaging menjadi PI mulai dari sekarang, atas nama kepraktisan.

PI ini, setipe dengan X-ray, tekniknya adalah dengan memancarkan gelombang elektromagnetik ke jaringan tubuh makhluk hidup. Dalam kasus PI, yang dipancarkan adalah laser. Lasernya pun nggak dipancarkan secara kontinu, tapi berupa pulse, jadi cuma sekeclap-sekeclap(?) gitu lah kira-kira. Laser itu singkatan loh, kepanjangannya "Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation". Nah, jadi intinya laser itu salah satu bentuk dari cahaya. Dari sinilah asal kata photo di PI.

Acoustic nya dari mana? Sabar, we'll get to it soon (maybe).

Laser itu cahaya, cahaya itu bentuk dari energi. Kalo dipancarkan ke jaringan tubuh, sebagian bakal diserap, dan dikonversi jadi bentuk energi lain: panas. Nah panas ini menyebabkan terjadinya "transient thermoelastic expansion" atau gampangnya pemuaian.

Intermezzo dulu tentang pemuaian. Dulu jaman SD saya pertama kali diajarin tentang pemuaian sama guru IPA merangkap wali kelas saya. Jadi waktu itu pemuaian diilustrasikan seperti ini. Bayangkan ada sekelompok orang berkumpul, anggap saja berbaris, rapat baik dengan sisi kiri kanan maupun depan belakang. Barisan ini anggaplah sebagai sebuah benda, dan orang per orang ini adalah molekul yang menyusun si benda.

Anak SD lagi baris

Kalau tiba-tiba matahari bersinar terik sekali, pasti si orang-orang dalam barisan mulai kepanasan, dan lama-kelamaan mereka nggak akan betah berada dalam barisan yang rapat kanan kiri depan belakang. Alhasil, mereka bakal bergerak menjauh satu sama lain, sehingga jarak antar orang bakal lebih gede daripada sebelumnya. Total barisan ini bakal lebih makan tempat daripada sebelum kena terik matahari. Kurang lebih beginilah, pemuaian.

Selain pemuaian, benda yang kena panas juga bakal menghasilkan gelombang ultrasonik. Masih inget pelajaran SD? Ada gelombang infrasonik, audiosonik, ultrasonik. Manusia cuma bisa denger yang audiosonik, sementara infrasonik dan ultrasonik bisa didengar oleh beberapa jenis hewan. 

Beliau bisa mendengar bunyi-bunyi yang tidak bisa didengar manusia.

Nah, darimana asal gelombang ultrasonik tadi? Kalo kita balik lagi ke ilustrasi tentang pemuaian, gelombang ultrasonik ini nampaknya muncul dari gerakan molekul benda ketika saling menjauh gara-gara kena panas. Walau nggak bisa didengar oleh manusia, gelombang ultrasonik ini termasuk gelombang bunyi. Dari sinilah asal kata acoustic di PI.

Mari kita singkat ultrasonik menjadi US mulai dari sekarang, atas nama kepraktisan. 

Gelombang US inilah yang bisa kita manfaatkan untuk mendapatkan gambar jaringan tubuh. Si gelombang US yang memancar dari jaringan tubuh yang kena laser tadi, ditangkep oleh US transducer. Opo maneh kuwi transducer? Transducer itu alat yang bisa mengkonversi sinyal dari bentuk energi yang satu ke bentuk yang lain. Kalo US transducer ya berarti dia bisa nangkep gelombang US (bunyi), kemudian mengkonversinya ke bentuk lain biar bisa diproses sampai menghasilkan informasi yang kita butuhkan: gambar jaringan tubuh.

Gimana sih kok dari gelombang US kita bisa dapetin gambar? Kita mesti agak mundur ke bagian penyerapan cahaya (laser). 

Mari kita (lagi-lagi) inget-inget pelajaran SD, atau SMP ya, lupa. Saya diajarkan tentang gimana kok kita bisa lihat warna-warna. Oke, pertama gini. Kalo ada cahaya, kita bisa dengan jelas melihat dan membedakan warna. Kalo gelap, nggak ada cahaya? Mana bisa. Berarti cahaya berperan penting. Lalu, cahaya yang kita lihat, yang kita dapatkan sehari-hari itu warnanya putih. Fun fact, putih adalah gabungan dari semua warna. Bisa dibuktiin kok. Coba bikin spinning wheel kayak yang buat roulette gitu, tapi warnai tiap slice nya dengan warna berbeda cem pelangi gitu. Terus puter. Warnanya bakalan jadi putih!



Nah, suatu benda bisa kelihatan berwarna sesuatu karena ada cahaya (putih) yang memancar ke benda itu, kemudian si benda memantulkan warna tertentu dan menyerap semua warna lainnya. Kasus ekstrem, benda berwarna hitam menyerap semua warna. Sebaliknya, benda putih memantulkan semua warna. Dari dua kasus ekstrem ini, bisa kita simpulkan kalo makin gelap (menuju hitam) warna benda, makin banyak menyerap cahaya. Sebaliknya, makin terang (menuju putih) warna benda, makin sedikit menyerap cahaya.

Sekarang kita tahu kalo penyerapan cahaya (laser) oleh jaringan tubuh dipengaruhi oleh intensitas warna, atau bahasa londo nya, intensity, atau bisa juga brightness. Daleman tubuh kita emang dasarnya warnanya merah kan ya, tapi intensitasnya beda-beda. Ada yang merah tua, merah mencrang, merah muda, dll. Bagian tubuh dengan intensitas warna berbeda menyerap energi cahaya dengan porsi yang berbeda, menghasilkan panas dengan porsi yang berbeda juga, dan akhirnya memancarkan gelombang US dengan porsi yang juga berbeda. Dari situlah, akhirnya kita bisa merekonstruksi gambar bagian dalam tubuh dari gelombang US yang beda-beda porsinya tadi.

Kalo misalnya pingin fokus ke organ atau jaringan tertentu, pingin gambarnya lebih jelas daripada bagian lainnya, kita mesti bikin si organ atau jaringan tertentu tadi berwarna kontras dibanding sekelilingnya. Hal ini bisa dilakukan dengan masukin (entah disuntikin atau gimana) contrast agent, semacem zat warna yang bisa bikin mencrang organ atau jaringan tertentu sehingga hasil imaging nya bakal lebih jelas. Atau, sebenernya haemoglobin a.k.a Hb dalam darah itu adalah contrast agent alami yang sudah cukup mumpuni. Jadi misalnya kalo mau lihat peta aliran darah pake PI, kita nggak perlu agent lagi, karena darah itu sendiri udah cukup mencrang, thanks to Mr Hb. 

Well, that's all, folks! Semoga rada bermanfaat. Saya juga nggak tahu kerasukan apaan sampe bikin postingan beginian. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya! :))

Rabu, 13 Agustus 2014

Mudik (Part 3)

'Family Members'
 
I am a cat person. Saya punya tujuh kucing di rumah. Tiga dewasa, satu agak-agak remaja labil, tiga bocah. Yang dewasa, jantan satu betina dua. Yang remaja labil jantan. Yang bocah jantan satu betina dua. Yang jantan dewasa ini kucing Persia. Big boss of all feline in the house. Beliau inilah yang membuntingi(?) salah satu kucing betina di rumah sehingga menghasilkan tiga kucing bocah. Si kucing betina yang ini kucing kampung yang ditemukan adek saya dua tahun silam di selokan. Sekarang udah jadi ibu. Time flies, fast.
 
Kucing betina yang satu lagi, kucing Himalaya. Konon hasil persilangan kucing Persia dan kucing siam, menghasilkan kucing cantik berbulu panjang cem kucing Persia, tapi warnanya ikut warna kucing Siam, yang mukanya item. Kucing Himalaya yang ini kucing pertama saya. Cantik, pake banget. Kadang-kadang dia suka mampir ke kamar saya. Saya lagi tiduran main hape atau laptop atau baca komik, terus dia ambil pose sphinx di kasur, sebelah saya, ngeliatin.
 
Kesayangan
 
Atas-bawah: remaja labil, kucing betina kampung, kucing-kucing  bocah
 
Si kucing remaja, dia ini anaknya si kucing Himalaya. Kawin sama kucing kampung di komplek. Warna ikut bapaknya, bulu ikut ibunya. Waktu itu si kucing Himalaya melahirkan delapan anak sekaligus. Pada dikasih-kasihin ke sodara, disisain satu buat di rumah, ya si remaja labil ini. Mungkin karena kesepian nggak punya teman dan kurang kasih sayang orangtua di masa kecil, akhirnya dia sekarang suka nempel ke kucing betina kampung, bahkan suka main bareng kucing-kucing bocah.
 
Kucing-kucing bocah jadi bintang panggung utama. Lagi lucu-lucunya. Udah cukup gede tapi masih terus-terusan dimanja: ibunya masih mau nyusuin. Tiap dibebasin main di ruang tengah, langsung kejar-kejaran nggak karuan, manjat gorden dan teralis, nyakar-nyakar sofa, main smackdown, dan sebagainya. Kalo udah mulai capek, cari-cari ibunya, nyusu. Atau langsung tepar di sofa atau di lantai, tidur dengan pose-pose adorable.
 
Saya nggak inget gimana suasana rumah saya sebelum punya kucing. Yang jelas semenjak punya kucing, kok rasanya indeks kebahagiaan saya meningkat. Bahkan sekedar melihat kucing-kucing berserakan di lantai pas pulang ke rumah, langsung bikin ceria. Long live my cats! Sehat-sehat ya semuanya! Jangan suka main jauh-jauh dari rumah ya! *cium jauh
 
***
 
Houseworks
 
Kembali ke rumah, berarti kembali ke rutinitas membabu. Langganan saya: dapur dan cucian. Untuk cucian, thanks to teknologi bernama mesin cuci, saya nggak perlu repot ngucekin baju satu-satu. Tinggal masukin mesin cuci, tuangin sabun, nyalain, tungguin sampe kelar. Kecuali baju seragam putih yang mesti dikucek ekstra bagian kerahnya. Cucian kelar, kemudian dijemur. Rumah saya menganut sistem jemur baju indoor, jadi nggak perlu repot ngangkatin jemuran kalau tiba-tiba turun hujan. Last but not least.. setrika. Ini yang paling malesin, sumuk. Dan makan waktu. Ibu saya masang kipas angin di meja setrika untuk mengatasi problem sumuk ini. Cukup membantu.
 
Lantai dua: setrikaan world (plus dekorasi favorit babeh, reptil!)
 
Selain urusan cucian, saya membabu di urusan dapur juga. Salah satu yang saya rindukan ketika jauh dari rumah adalah dapur. Saya bukan jagoan masak, sama sekali bukan. Tapi saya suka berada di dapur. Saya enjoy masak-masakan. Mulai dari sekedar bikin indomie goreng (mie instan terenak di dunia tiada tanding tiada banding tiada duanya), sampai uji coba resep njelimet dari internet. Saya cukup expert di divisi gorengan. Saya nggak pernah takut kecipratan minyak panas. Saya bisa memperkirakan kapan gorengan harus diangkat dengan melihat warna dan tekstur luar benda yang digoreng. Senjata andalan saya, terutama untuk cumi, udang, dan tahu, adalah tepung goreng sajiku. Bisa dibeli di Griya terdekat. *promosi
 
Masih terkait dengan dapur, kebetulan lebaran lalu kami sekeluarga tidak mudik. Sesuai dengan pengalaman kami selama ini ketika Idul Adha, biasanya selepas sholat Ied tidak ada rumah makan ataupun restoran, atau bahkan warung yang buka. Akhirnya saya bilang "Bu, taun ini kita masak aja." Jadilah, untuk pertama kalinya saya dan ibu masak untuk lebaran. H-1 lebaran, keliling daerah Metro dan Margahayu, mau beli ayam, kentang, hati, dan bumbu-bumbunya. Yang menarik adalah, kami nggak bisa nemu bumbu opor! Kami sudah jelajahi hampir setiap supermarket besar dan kecil, minimarket, warung, dan tetap tidak ada hasilnya! Sold out. Namun ketika kami sudah hampir menyerah dan pulang, ternyata malah di minimarket terdekat dari rumah saya nemu bumbu opor! Itupun setelah mencari-cari di tumpukan, memilah-milah satu persatu. Pure luck.
 
Berhasil akhirnya kami bikin santapan lebaran: opor sayap, sambel goreng ati dan kentang, dan dendeng balado. Plus karak impor langsung dari Solo. Rasanya gimana? Divine, guys. Divine.
 
*** 
 


Selasa, 12 Agustus 2014

Mudik (Part 2)

The Cat and The Tiger
 
Tau lagunya mbak Raisa? Yang ini nih:
 
 
Hehe map ya malah promosi soundcloud. Jadi intinya, mudik sesingkat ini harus dimanfaatkan untuk isi bahan bakar biar cukup buat setahun. Demikian.
 
:3
***
 
My Sweet Old Campus
 
Pulang ke Bandung tanpa sowan ke kampus gajah itu kurang afdol rasanya. Jadilah, saya dan dua orang anggota geng lab radar pun janjian ketemuan di masjid Salman depan kampus. Dua orang anggota geng ini, dua-duanya perempuan. Yang satu kerja di perusahaan swasta ternama di lantai belasan The Plaza, dimana dulu saya ngelamar tapi gagal pas wawancara. Satunya lagi kerja di tempat kerja saya dulu, di bawah bos yang pernah jadi bos saya dulu. Dunia emang sempit sih ya.
 
Rasanya baru kemarin kami sama-sama nongkrong belajar atau ngerumpi bareng di musola kayu labtek lima. Atau ngantri bimbingan ke lab radar. Atau ngaso di residensi telmat sambil ngemil makaroni full MSG. Nggak kerasa. Sekarang udah pada jadi mbak-mbak kantoran, tante-tante, ibu-ibu.
 
Teman saya yang satu, yang dulunya emang udah paling fashionable seangkatan, jadi makin fashionable lagi. Udah mah paling tinggi kedua seangkatan (cewek), kemana-mana nggak lepas dari high heels pula. Saya jadi merasa kurcaci dan hilang self esteem kalo lagi jalan sebelahan. Haha. Yang satunya lagi, sekarang udah dandan. Dulu jaman mahasiswa kan palingan pake bedak doang lah ya kalo keluar rumah, at least biar nggak mengkilap mukanya. Kalo si ibu yang satu ini sudah merambah make up yang tidak sekedar bedak. Setidaknya sudah banyak bermain di mata dan alis. Alasannya, "gara-gara kata nyokap pas gw mau berangkat kantor: kamu itu lho mbak, ngantor kok mukanya kayak nggak mandi".
 
Kami bertiga hari itu keliling kampus berbekal sebuah senjata rahasia. Penemuan terbesar abad ini: tongsis. Benda ini merupakan inovasi yang sarat guna, terlebih bagi kaum yang doyan selfie sekaligus berjiwa kekeluargaan yang tinggi, sehingga lebih suka selfie bersama-sama dengan teman-teman, keluarga, atau siapa saja lah yang ada di sekitar situ. Kami foto-foto di berbagai spot menarik di seantero kampus, misalnya gerbang depan yang bunga ungunya lagi pada mekar, boulevard of broken dreams, intel, depan labtek delapan, depan lab radar, depan teknik mesin (?), dan lain-lain.
 
Boulevard
 
Gerbang depan
 
DPR
 
Depan GSG
 
Fotomodel
Setelah puas foto-foto, kami beranjak ke mall idaman semua pelajar, BIP. Hari itu ceritanya ada reuni kecil-kecilan Telkom 08 cabang Bandung (sedang berdomisili Bandung atau lagi mudik ke Bandung). Makan di D Cost, yang notabene berslogan: "rasa bintang lima, harga kaki lima", tapi sudah agak nggak tepat lantaran harga makanan di D Cost sekarang sudah melonjak drastis, padahal porsi segitu-segitu aja, atau malah makin kecil. Tapi emang ya, mangan ora mangan kumpul. Yang penting itu kumpulnya. Ketemu lagi sama muka-muka familiar. Cerita-cerita, gosip maupun fakta. Daaan akhirnya foto bareng. Fotoboks, karena asalnya mau foto studio tapi gak feasible, kebanyakan antrian.
 
Kalo orang bilang, "SMA itu masa-masa paling indah", saya kok enggak ya. Kuliah di kampus gajah adalah masa-masa paling indah. Indah? Ya, 'berwarna' kayaknya kata yang lebih tepat. Semoga saja suatu saat nanti saya bisa balik mengabdi di kampus ini lagi. Atau kalo enggak ya nyekolahin anak di sini. Atau anak saya yang mengabdi di sini. Apa aja boleh deh. Haha.
 
Aamiin.
 
***