Sabtu, 03 Desember 2016

Day #6: Five Ways To Win My Heart

I don't like this post. It's like giving away a cheat sheet. Where's the mistery. Haha.

#1: Cook for me

Kata pepatah kan dari mata turun ke hati. Saya mau bikin pepatah baru ah: dari perut naik ke hati. Haha. Wah kalo ini saya jadiin parameter utama, berarti all time winner nya mutlak ya: ma mere, my simbok. Gak akan pernah ada pesaing. But hey, you can try. It's the effort that counts.

#2: Act like a gentleman

It's about the small things: holding the door, giving up your seat, walking closest to the curb. Eh kan emansipasi ul, udah setara, ga usah ada perlakuan khusus antara laki-laki dan perempuan? Screw that. I'm not going to lie, I always do like being treated differently, more politely, or gently, just because I'm a woman.

#3: Make me laugh

Ini standar ya. But easier said than done. Believe me.

#4: Cool me down

Put water to my fire. Seriously if you can manage to do this, you have a serious skill. I will adore you in an instant.

#5: Be passionate in what you do

Nothing is sexier than a man with passion.

***

Sebenernya masih banyak sih printilan-printilan lainnya. Suka Harry Potter, bisa main musik, bisa jadi pendengar yang baik, dll. Tapi kayaknya lima tadi masih yang paling ampuh.

Okeydoke, I hope you find this useful. (What. Who?)

Jumat, 02 Desember 2016

Day #5: Five Places I Want To Visit

Selama ini kayaknya saya shamelessly ngaku-ngaku kepingin keliling Indonesia, bahkan keliling dunia. Padahal kalo ditanya spesifik pingin kemana aja sih, dan alasannya apa, ternyata sulit juga jawabnya. Haha. Anyway. Setelah sedikit merenung akhirnya dapet wangsit juga. Inilah.

*disclaimer: none of these photos are mine

#1: Greece


Alasan utamanya ada dua: Santorini dan Meteora. My all time favorite song from Yanni and my second most favorite album from Linkin park (my most favorite being Hybrid Theory, of course). I have this feeling that those places must be so extraordinarily beautiful that they've become such inspirations to musicians.

#2: Haramain


Saya beruntung pernah dikasih kesempatan umroh. Dan ternyata duo Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sampai sekarang masih ranking pertama di list tempat-tempat yang bikin susah move on. Setiap aspeknya bikin rindu. Semoga di masa depan saya dikasih kesempatan ke sana lagi ya, untuk umroh atau haji, pake duit hasil keringat sendiri. Aamiin!

#3: Italy


Rome, Venice, Florence, and Vatican City. Do you sense something? You got me. I'm a geek and I know it. Haha. I basically want to go there because of Dan Brown's novels. Kalo beneran kesampean kesana, itinerary nya pasti including list tempat-tempat dan karya seni yang muncul di The Da Vinci Code, Angels and Demons, sama Inferno. Plus, I get to know how THE real pizza tastes like. And plus plus, you know, I heard their men are, how to put this delicately.. devilishly handsome.

#4: UK


The one and only reason is.. you know. I know you do. If you don't know, then you don't know me at all. Nuff said.

#5: NZ


Again, I have one reason only. 


Kamis, 01 Desember 2016

Day #4: Someone Who Inspired Me

Susah lagi nih hari ini topiknya. I'm never easily impressed by people, let alone 'inspired'.

Kali ini saya putuskan untuk tidak nulis tentang orang-orang tenar. Definisi 'inspire' di Cambridge (British) dictionary adalah "to make someone feel that they want to do something and can do it". Berarti intinya hari ini saya mesti nulis tentang orang yang bikin saya termotivasi kan ya. Baiklah.

Izinkan saya repost cerita lama. Kayaknya udah pernah ditulis di blog ini deh sekian tahun silam. Nggakpapa lah repost tulisan sendiri mah ga akan kena sanksi plagiarism.

Jadi ceritanya waktu itu saya tingkat dua. Ada satu mata kuliah namanya Algoritma dan Struktur Data. Setiap sebelum praktikum, selalu ada tugas pendahuluan (TP) yang mesti dikerjakan dirumah, lalu disubmit di hari praktikumnya. Praktikum hari Senin, hari Minggu seharian saya nyampah, nonton tivi, internetan, chatting. Rasanya aman dan tenteram lantaran udah ada 'referensi' TP dari sumber terpercaya (sebut saja dia 'Toki').

Setengah 10 malam pun saya masih fesbukan dengan tenang. Besok pagi-pagi tinggal nyalin TP dari si sumber. Effortless lah. Sampai kemudian hape bergetar, ada SMS dari seorang teman. Berikut percakapan saya dan si teman via SMS.

Teman : Ul, TP alstruk diaplod ka mana?
Saya : students.if.itb.ac.id/~if16077/IF2031 wah maneh ngerjain sendiri TP nya? Gaul lah.
Teman : Iya nih, tapi masih banyak yang belum sih.
Saya : Mau cara licik ga? Haha.
TemanSebenernya bisa sih ul, kalo mau licik, saya punya TP nya Toki. Tapi ga ah. Orangtua saya bayarin saya kuliah mahal-mahal biar saya pinter. Kalo memang saya ga bisa, yang penting saya udah berusaha.

And then it hit me. 

Saya tutup internet browser. Saat itu hampir jam sepuluh malam. Saya akhirnya ngerjain TP sendiri sampai setengah tiga pagi. Nggak jadi nyalin. 


***

Jadi mungkin tulisan ini agak menyimpang dari topik ya. Karena sebenernya yang di kala itu menginspirasi adalah kata-kata si teman. Mestinya jadi "Something That Inspired Me" judulnya.

Anyway, kata-kata dia tadi bikin saya tergerak buat jadi orang yang lebih bersyukur dan lebih punya prinsip. Pada suatu titik (atau banyak titik) dalam hidup pasti kita pernah memilih menyelesaikan persoalan pakai jalan pintas kayak saya tadi. Tapi kalau kamu beruntung, kamu akan nemu sesuatu yang jadi tamparan, yang mengembalikan kamu ke jalan yang benar. 

Dan orangtua kita kerja banting tulang biar kita bisa sekolah tinggi-tinggi, nggak worth it banget kan kalo kita kerjanya cuma nyalin, nyontek. Ngga balik modal lah, boro-boro untung. Saya nggak melaknat perbuatan cari 'referensi' juga sih, tapi yang jelas perlakukanlah 'referensi' benar-benar sebagai referensi. Maksudnya acuan ketika kamu bener-bener stuck dan usaha maksimal sudah dikerahkan. 

You know, it is always the process that really counts. Dan saya sampai sekarang berusaha istiqomah berpegang pada itu.

Btw hey, Teman, you know that was you I'm talking about. If you read this, please know that I'm grateful. :)

Rabu, 30 November 2016

Day #3: My Top Three Pet Peeves

Yang ini gampang nih. Let's gooo.

Oh btw menurut wikipedia:
"pet peeve or pet aversion is a minor annoyance that an individual identifies as particularly annoying to himself, to a greater degree than others may find."

Pet peeves #1: Tukang ngaret

Jaman kuliah dulu, saya ikutan himpunan jurusan. Nggak aktif-aktif amat, tapi lumayan lah seenggaknya muka saya dikenal sama tukang jual makanan dan tukang fotokopi di sekre himpunan. Kalo disuruh nyebutin pengalaman ter ngga banget selama di himpunan, itu adalah kebiasaan ngaretnya! Mau ngumpul, ngaret. Rapat, ngaret. Bikin acara, ngaret.

Wait a minute ul, masa sih se-himpunan-eun tukang ngaret semua? Jangan asal ngomong dong, ntar dikira pencemaran nama baik loh. Haha. Ya engga beb, ga semua. Tapi. Gimana ya. Kerasanya kayak ngaret itu tolerable banget, hal yang biasa. Kayak misalnya suatu hari saya dikasitau ada rapat BP (badan pengurus) di sekre jam 8 pagi. Baiklah. Tau sendiri kan rumah saya di ujung dunia, ke kampus sejam lebih. Tapi jam 8 kurang 5 saya sampe sekre, dan? Kosong. Ngga ada orang. Ada sih yang pada nginep, masih pada ileran. Sampai akhirnya jam 9 barulah muncul cukup orang buat memulai si rapat.

Kalo kata seorang teman sih, itu strategi. Dia sudah mafhum orang-orang pasti ngaret, makanya kalo dia pengen bikin rapat yang mulainya jam X, dia tulis di undangan rapat kalo mulainya jam X-1. Tapi bukankah ini berarti justru memfasilitasi kengaretan? Ya ngga sih? Lalu orang kayak saya musti jadi korban. Udah belain dateng pagi, eh ngaret sejam. Padahal kan waktunya bisa dipake sarapan dulu, atau mandi (ups), atau sapu-sapu(?).

Pet peeves #2: Loud noise (that comes from human)

Loud itu relatif ya. Kadang kalo saya lagi butuh konsentrasi atau butuh istirahat atau lagi bad mood, suara orang ngobrol dengan volume suara normal pun bisa masuk kategori loud noise. Misal pas lagi butuh ngerjain tugas atau belajar buat UTS, trus ada orang-lab pada ngobrol, apalagi pake ketawa-ketawa. But then again, orang kroya emang volume suara nya ga nyantai, ngobrol normal pun suaranya kenceng. Pokoknya bikin emosi.

Contoh lain: suara anak kecil jerit-jerit. Apalagi kalo pas saya di kendaraan umum, terjebak kan jadinya sama sumber suara, no escape. Rasanya bikin pingin.. Ah sudahlah terlalu gore(?).

Pet peeves #3: Public display of affection (PDA)

Gimana ya. Orang kan beda-beda dalam mengekspresikan.. affection. Tapi saya ga suka aja liat PDA, entah dalam bentuk fisik maupun nonfisik(?). Geuleuh. Asa teu kudu. Haha. Tapi sebenernya yang ini gampang dihindari sih. Kalo liat muda-mudi pegang-pegang peluk-peluk cium-cium di tempat umum, ya tinggal ga usah dilihat, cari pemandangan lain. Kalo PDA nya di medsos, tinggal di hide atau kalo sering tinggal di unfollow.

***

Ya jadi begitulah tips 'n trik buat bikin saya emosi. Gampang sekali bukan? 

Selasa, 29 November 2016

Day #2: Something Someone Told Me About Myself, That I Never Forget

Ini agak butuh mikir ya, topiknya agak syusyah. 

Hmm.

Hmmmmmmm.

To be honest I'm having a hard time figuring this out. Serius, nggak kepikiran. Kok bisa ya?
Apakah:
  1. People never really tell me what they think about me. 
  2. They did tell me, but those that I already knew. Stating the obvious. Jadi nggak memorable gitu.
Kayaknya lebih ke arah yang pertama sih. Pada takut sama komandan. Huft.

Oke baiklah, kepikiran nih. Tapi jadi agak lebih spesifik topiknya jadinya:
'Some things my ex(es) told me about myself, that I never forget.'

Siap-siap. Here goes. 
(Notes: kalimat tidak 100% persis sama, harap maklum ingatan penulis tidak sempurna)

#1: "Sama kamu nggak bikin aku lebih baik, nggak di akademik maupun organisasi."

#2: "Kamu kayak ngga pernah ada inisiatif gitu."

Jengjengjeeeeng. Pantesan bubar ya. Hahaha.

Anyway. Dua kalimat di atas sepintas terlihat beda topik. Tapi sebenarnya maknanya ngga jauh berbeda! Maknanya apa emang? Yaa, menurut pemahaman saya sih, yang mau mereka bilang itu adalah saya.. ngga niat. Ngga se niat itu, untuk, apa ya, being involved in their life. Ya jadi boro-boro ngasi dampak positif ya, terlibat aja kurang minat.

Ya terus hal itu bikin saya mikir: bener ga sih saya kayak begitu? I took some time to contemplate and.. I agree.

Sorry guys, you're right. Mungkin seperti kata pepatah(?):
"If you really want it, you'll find a way. If you don't, you'll find an excuse."

Mungkin suatu hari nanti si niat itu akan muncul ya, kalo ketemu orang yang tepat. Mungkin loh ya.
Semoga. *fingers crossed* 

Senin, 28 November 2016

Day #1: 10 Things That (Really) Make Me Happy

#1: A (really) good movie

Terlalu standar ga sih? Hahaha. Tapi seriusan, nonton film yang beneran bagus (menurut standar saya sendiri, dan kadang-kadang standar IMDB) itu bener-bener bikin bahagia. Film yang kalo ditonton di bioskop bikin termenung takjub dulu beberapa saat setelah film selesai. Atau film yang kalo ditonton sendirian di kamar bikin mata bengkak dan ngabis-abisin tisu. Watching good movies allows you to escape, from, stuffs. Go on adventures. Fall in love. Frightened to death. Some movies even make you feel like you're taking a ride on an emotional roller coaster. 

Oh, same goes with (really) good books, tho.

#2: Bikin coveran

Si hobi yang satu ini sudah sekitar tiga tahunan umurnya. Awal-awal masih primitif, ngerekam se-lagu-eun dari awal sampe akhir pake recorder hape, jadi kalo ada yang salah ya ulang bikin lagi dari awal. Kemudian recorder hape dirasa sering bikin eror, jadi pindah ke recorder laptop. Selanjutnya seorang rekan memperkenalkan software recording sekaligus editing dan mixing yang gratis dan cukup menarik untuk diulik, jadi sekarang udah less primitive lah. 

Dari sisi musiknya juga awalnya berpasrah diri pada konten karaoke yang ada di youtube, atau kadang minta temen bikinin iringannya. Ya apa daya beta tak ada alat musik di sini. Tapi ternyata ada sebuah keajaiban yang bernama online sequencer. Ini versi super cupu nya, cuma semacam butiran marimas lah dibanding software-software sequencer dan music production lainnya. Tapi lumayan banget buat pemula. Hihi. Lalu dari sisi vokal mah, yang penting tolerable di kuping sendiri aja udah cukup lah, apa boleh buat ane bukan Krisdayanti.

#3: Waking up in my own bed

Antara kebangun karena suara adzan dari mesjid komplek. Atau karena berisik cuit-cuit burung yang bermarkas di pohon tepat di depan jendela kamar. Itu, pohon yang kalo kemarau sering banyak ulat bulu nya. Atau karena dada terasa berat ketindihan kucing. Atau karena wangi sarapan bikinan simbok menyelinap masuk celah pintu kamar.

#4: Kucing

Go ahead call me crazy cat lady I don't mind.

Duh. Suatu hari nanti kalo ada rejeki dan opportunity, saya pingin bisa bikin shelter buat kucing liar. Sekaligus adoption center. Aamiin.

#5: Hujan

Adeuh meuni sentimental ul.
Sentimental itu sama dengan sepuluh milimental kan ya. Yaelah garing :(

Anyway, rain does make me happy. Looove everything about it. Love the grey clouds blocking the sun. The sound of thunder. The calming noise from the pouring rain. The smell of wet soils. The feeling of walking in the rain, no raincoat, no umbrella. Kemudian besoknya masuk angin. Worth it.

#6: A good talk

You know you have a good talk when it just flows, covering a riddiculously broad range of topics, effortlessly, you don't even remember what your original topic was. Or when you're in the car and hoping you stuck in the traffic forever so the conversation won't have to end. Gampang-gampang susah sih cari rekan bicara yang klik. Klop. Kayak gembok dan kunci. Kalo udah nemu hendaknya dilestarikan supaya tidak punah.

#7: Feeling appreciated

It's all about the small things. Macam sepenggal frase 'good work' dari supervisor. Atau hasil jepretan yang diaplot ke fesbuk tetiba di-like sama temen yang jago fotografi. Atau ada yang tau-tau rikues coveran. Sepele tapi jadi mood booster!

#8: Seeing loved ones happy

Ini dia nih. Bermanfaat buat ngetes, siapa-siapa aja sih yang masuk kategori loved ones. Haha. Karena kerasa banget, kalo pas doi-doi senang, saya ikutan senang. Kalo denger kabar bahagia dari mereka, tiba-tiba kayak ada perasaan hangat di dada, yang kemudian menyebar ke mana-mana. Ya, kayak habis minum wedang jahe gitu lah. Tapi nggak kayak gitu juga sih. (lah gimana sih?)

#9: Learning something without being forced

Eh seriusan loh belajar sesuatu dengan keinginan sendiri itu bikin bahagia banget. Kalo bisa mah pengen deh immortal gitu, forever young, terus ngambil kuliah s1 berkali-kali, di beda-beda jurusan setiap kalinya. Lulus jurusan A, ambil lagi jurusan B. Lulus B, ambil jurusan C, dst. Jadi literally mahasiswa abadi. 

#10: Listening to 'The Sound of Indonesia' playlist

Whenever you listen to those, you know exactly where you're heading to: 

Home.


Selasa, 12 Januari 2016

An Email From Paris

Btw ini kejadian taon lalu.

Semua berawal dari suatu hari yang biasa aja di bulan November. Ke lab pagi, nyalain kompi, buka browser, liat email. Eh. Kok. Ada satu subject email yang lain dari biasanya.

[Flickr] From Paris, request about an image in Jakarta

Seumur2 kalo dapet email dari Flickr palingan cuma apdetan tentang postingan2 baru nya orang2 yang difollow. Tapi ini engga. Baca subject nya aja deg2an kan, from Paris, gile ngga sih gue udah go international banget bo, dikirimin surel ama orang Paris. Yaudah. Ketika dibuka:

Dear Aulia,

I would like to print an image you made in 2010 in Jakarta.
Could you write to me as soon as possible at mawar@monde-diplomatique.fr and we could exchange together in a better way.
Hope you receive this message!

Best regards
Mawar

Engga, nama asli dan alamat email pengirim disamarkan. Aslinya bukan Mawar.

Terus karena penasaran, saya baleslah si Mawar ini via email yang kira2 isinya kalau disederhanakan:

Eh emangnye elu pingin poto nyang mane?

Tidak dinyana, balesan berikutnya dari si neng Mawar cukup panjang dan to the point. Doi tunjukin foto mana aja yang doi mau. Kemudian doi menjelaskan bahwa surat kabar tempatnya bekerja lagi menggarap sebuah artikel (bocoran: artikelnya tentang 'genocide in Indonesia, 1965'), dan doi sebagai divisi art2 nya gitu (ini saya tau dari hasil stalking webnya si surat kabar) bertugas hunting foto yang mendukung si artikel. Dan ternyata beberapa hasil jepretan saya yang doi temukan di Flickr berhasil meluluhkan hatinya(?). 

Di segmen berikutnya dia minta saya jelasin makna dari si foto dan sedikit2 nanya2 tentang hal2 terkait artikel yang lagi mereka garap. Kemudian dia bilang kalo si foto ini jadi dipublish, bakal dicantumin nama saya, tempat, dan tahun penjepretannya. Dia bahkan udah minta alamat buat ngirim cetakan suratkabarnya edisi yang ada si artikel itu, dan buat ngirim form pembayaran honor, which is kata dia 260 euro honornya. 

Saya? Reaksi saya gimana? Tercabik. Terharu sih hasil jepretan saya diapresiasi orang yang beneran kerja di surat kabar. Ya berarti seenggaknya layak nampang gitu lah ya. Duitnya juga lumayan. Tapi ga dikasi duit pun saya udah seneng klo nama bisa nampang di caption foto di koran. Kya kya kyaaa. Tapi di sisi lain, setelah si Mawar nyeritain si artikelnya tentang apaan, saya jadi melempem. Apa pasal? Jadi menurut saya isi si artikel dan apa yang ada di foto saya itu ga nyambung. Ingin rasanya berpantun joko sembung bawa golok tapi urung, si mbak Mawar ga bakalan mudeng. 

Yasudah. Akhirnya ya saya coba paparkan makna yang terkandung di balik si foto, dan saya biarkan dia menilai sendiri, kira2 cocok ngga si foto disandingkan dengan si artikel. Sebenernya sih kalo mau disambung2in ada hubungannya juga sih, tapi ngga langsung gitu. Yaa eike mah pinginnya jadi aja gitu dipasang, lumayan banget kan ini bisa jadi batu loncatan menuju femes(?). Sementara hati nurani meronta tidak mau membiarkan si mbak Mawar terjerumus memasang foto yang ga nyambung2 amat.

Jadi akhirnya saya mengisi akhir pekan dengan menunggu decision dari beliau. Ditunggu2, email tak kunjung datang. Ealah liat di internet ternyata di Paris lagi heboh bombing! Gak bakal diurus sih ini foto gue, ada berita yang lebih hot daripada si artikel yang tadi. Dan benar, baru tiga atau empat hari setelah pengeboman, email balasan pun datang. Intinya isinya bilang kalo dia udah nemu foto lain yang lebih cucok. Tapi dia bilang juga:

Less nice than yours, unfortunately.

Entah jujur entah hanya menghibur. It put a smile on my face.

Ujung2nya saya ga jadi nampang di koran bule. Tapi sebenernya pengalaman email2an dan bertukar pendapat dengan si neng Mawar ini pun udah suatu adventure tersendiri buat saya. Yeah you heard it right! Adventure! Ternyata saya bisa aja going on adventure tanpa perlu menggeser bokong dari kursi lab. 

Also, this made me experience something wonderful: that feeling when your work is appreciated. That's maybe the best feeling in this world. In my world.