Selasa, 11 Maret 2014

REPOST: 100 Fakta Unik Mahasiswa ITB

Ini saya nemu dari sini:
which is doi juga repost dari sumber lainnya. Nggakpapa deh ya repost asal disebut repost darimana nya.. :3

*Yang di dalem kurung dan dimiringin itu komen dari saya pribadi

*Gambar2 di postingan ini semuanya bukan punya saya, kecuali yang foto ultah dosen pembimbing
*Mohon ampun saya nggak nyatetin sumbernya, yang merasa pemilik gambar, makasih banyak yah sudah menyemarakkan postingan ini

1. Mahasiswa ITB itu merasa membuat laporan praktikum adalah hal yang lebih menyebalkan daripada ujian (kalo buat saya mah mendingan ngerjain laporan sih daripada ujian)

2. Mahasiswa ITB itu sebelum masuk kuliah, sms teman dulu. Kalo ada kuis, masuk, kalo gak ada, ya gak masuk (ehem. sori2 ya saya mah anak rajin, kuliah masuk terus. kecuali sistem komunikasi op*** sama perancangan sistem base****)

3. Mahasiswa ITB itu kalo gak mandi gak ketauan

4. Mahasiswa ITB itu mandinya 2 hari sekali. Yang mandinya sehari 2 kalii, berarti gak gaul. (saya biasanya 1 hari sekali haha)

5. Mahasiswa ITB itu kalo mau UTS jadi agresif

6. Mahasiswa ITB itu tidak takut dengan orang gila bernama Dona yang berkeliaran di kampus

7. Mahasiswa ITB itu sukanya cewe-cewe dari SITH ama SF (setuju SF cantik2!)

8. Mahasiswi ITB itu sukanya cowo-cowo dari FTTM ama FTMD (ehem. HME dong!)

9. Mahasiswa ITB itu sukanya maen game online. Yang gak maen, berarti gak gaul

10. Mahasiswa ITB itu paling suka arak-arakan pas wisudaan

11. Mahasiswa ITB itu ngerasa keren kalo pake jaket himpunan jurusan masing-masing (iya keren tapi panas dan males bawanya, berat)

12. Mahasiswa ITB itu kalo ulang tahun mesti diceburin ke intel (masa2 itu sudah berlalu)

Biasanya sebelum diceburin digesek dulu di pohon terdekat.
13. Mahasiswa ITB itu gak suka sama salah satu unit rektorat bernama K3L

14. Mahasiswa ITB itu kalo kuliah telat berarti baru bangun (kalo saya telatnya gara2 telat bangun mah ga bakal kuliah sama sekali, rumah jauh -_-)

15. Mahasiswa ITB itu kalo ngekos suka bawa kendaraan ke kampus yang bikin macet

16. Mahasiswa ITB yang gak ngekos biasanya anak baik-baik (YES! anak baik2!)

17. Mahasiswa ITB yang pulang malem-malem berarti baru beres praktikum, main di Sunken Court, atau beres rapat di himpunan/unit (atau ngerjain TUBES. MAMAM)

18. Mahasiswa ITB itu ampir gak pernah pake jaket almamater. (teronggok di lemari, lipetan paling bawah. baunya udah sampe bau kamper lemari saking gapernah dikeluarinnya)

19. Mahasiswa ITB itu gak bisa bawa motor ato mobil ke dalem kampus. Yang bisa berarti gahul!

20. Mahasiswa ITB itu “biasanya” nyontek kalo soal ujiannya PG (manaaaa adaaaa ujian PG)

21. Mahasiswa ITB itu kalo UTS, belajarnya H-2 atau H-1. Yang belajar kurang dari itu, berarti DEWA (ane sih ga sanggup bro belajar mepet2 banget, hidup serasa tidak tenang)

22. Mahasiswa ITB itu kalo pagi-pagi banyak antri di tempat fotokopian atau tempat ngeprint

23. Mahasiswa ITB yang baru naik tingkat 2 pasti nanya “kapan pelantikannya?” (etapisan)

24. Mahasiswa ITB yang non-himp pasti aktif di unit, kalo gak juga berarti Study Oriented banget

Jumat, 07 Maret 2014

Cantik

Orang bilang di Korea itu penampilan fisik sangat diprioritaskan. Well it's true. Di satu sisi itu baik. Sejauh mata memandang, people dress up very nicely, enak dipandang, dan seterusnya. Tapi tidak sedikit yang menurut saya kebablasan. I'm sure you know what I mean: plastic surgery.
 
Operasi plastik a.k.a oplas di Korea itu laris bak kacang goreng. Dimana-mana terpampang iklan oplas. Entah itu di brosur atau selebaran, di poster dan baligo, bahkan sampai billboard pun ada. Ini sebenarnya hasil dari silogisme sederhana: Di Korea, cantik itu penting. Operasi plastik bisa bikin cantik. Karena itu, orang Korea gemar melakukan operasi plastik.
 
Salah ngga sih oplas? Well. Buat saya salah. I think God had made every single one of us in the prettiest form possible. Jangan lupa Dia juga maha kreatif, karenanya kita nggak seragam, beda-beda warna kulit, warna rambut, bentuk mata, hidung, mulut, dan sebagainya. Buat saya sih oplas itu salah satu bentuk tidak bersyukur, sekaligus meragukan Tuhan. Seakan-akan bilang gini "Woi Tuhan, kok lo nyiptain gue ga cantik gini sih? Yang cantik itu begini, begini, dan begini loh. Tapi ga masalah. Gue bisa kok jadi cantik. Kan ada oplas!"
 
Tapi ya karena motto saya 'lakum dinukum waliyadin', whatever you think is good for you then just do it, I won't give a damn.
 
Mungkin orang mikir, wah kalo ke Korea kan isinya orang ganteng-ganteng sama cantik-cantik doang, bisa minder parah dong di sana ntar, kebanting! Seriously doesn't happen to me. Funny thing is, I feel like winning in some particular way. Kok bisa? Seperti yang kita ketahui, orang sini ini naturally bermata sipit dan kebanyakan tanpa kelopak mata. Cewek-cewek terutama, setiap pagi dandan dulu pasang make-up pokoknya biar matanya keliatan lebih gede. Salah satu definisi cantik menurut mereka ternyata punya mata gede. Yang lebih all out ya yang tadi itu, oplas biar permanently punya mata gede dan kelopak mata. Mereka kudu keluar effort segitunya demi urusan mata, while all I need to do is just simply open my eyes and there they are! The so-called drop-dead-beautiful big eyes!
 
Lo menang di mata Ul, tapi mereka kan menang di kulit putih mulus sama bodi langsing SNSD genetically? Lah ya ga masalah. Kan saya bilang juga apa tadi, God had made every single one of us in the prettiest form possible. I just said I feel like winning in some way, there is no real winner or loser at all. My point is, adjektif 'cantik' itu sejatinya tidak bisa dibandingkan. Tidak seperti 'besar', 'kecil', 'tinggi', dan 'lebar'.  'Lebih besar', 'lebih kecil', 'lebih tinggi', dan 'lebih lebar' itu sih mutlak. Definisi yang seperti apa yang 'lebih cantik' itu cuma bualan media. Jadi, usaha yang kebablasan demi mengejar titel 'lebih cantik daripada orang lain' itu pointless.  
 
Just look at yourself on the mirror every morning and say to yourself: you're pretty. That's a good way to start the day, and to thank God for what He's given to you.
 
;)
 

Sabtu, 22 Februari 2014

Edisi Curhat: Ngombe

Saya nggak minum. Dalam ajaran agama saya, minum itu dilarang. I assume we are all know what I mean with minum here, right? Hehe.

Di Indonesia saya belum pernah lihat orang minum, karena kebetulan saya hampir selalu hidup di antara orang-orang yang bukan peminum. Lain halnya dengan disini. Di sini agama saya bukan mayoritas. Minum sama sekali tidak dilarang, malah jadi budaya dan sedikit banyak juga jadi bentuk sopan santun dan etiket dalam bergaul. Minum minuman beralkohol disini itu ibarat pesen es teh manis lah. Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro bir atau soju. 

Kadang saya penasaran kenapa orang suka minum. Dalam satu kesempatan saya sempat tanya ke researcher di lab yang orang Rusia. Dari 9gag beberapa sumber website, saya tahu kalau orang Rusia punya stereotype heavy drinker di mata negara lain. Begitu saya tanya ke orang Rusia aseli nya, dia bilang, 'bisa iya, bisa enggak'. Kamsudnya? Ya dia bilang, orang Rusia mungkin banyak minum, tapi bukan berarti semuanya hobi atau addicted, melainkan mereka butuh minum. Di Rusia sono dinginnya naudzubillah. Alkohol mereka butuhkan buat menghangatkan tubuh mereka. So they drink. Much. Begitu.

Bagaimana dengan orang sini? Kan nggak dingin-dingin amat yak. Winter juga cuma 3 bulan setaun kan. Jadi, minum di sini itu kayaknya sih udah tradisi, entah sejak kapan. Ada acara makan bareng, minum. Ada kumpul-kumpul, minum. Celebration, minum. Sebenernya nggak cuma di sini sih ya. Di banyak negara lain juga begitu. Minum kata mereka bisa melepas stres dan beban hidup harian. Temen lab saya sendiri pernah bilang, cara termudah untuk relaxing setelah stres dengan kerjaan adalah minum. So it helps them to get away from stress and help them regain their focus to continue their works. Sounds good and advantageous.

Tapi kemarin-kemarin saya untuk pertama kalinya menyaksikan dengan mata kepala sendiri efek paling umum dari minum yang kebablasan. Mabok. Bagaimanakah ciri-ciri orang mabok itu? Waktu itu saya nggak terlalu merhatiin perubahan tampang atau raut muka atau warna muka mereka yang mabok, entah ada perubahan atau tidak. Tapi perubahan #1 yang saya temukan adalah: volume suara membesar secara sangat signifikan. Mungkin pas mereka mabok, mereka jadi agak budek atau pendengaran agak bermasalah gitu kali ya, sehingga kalo ngomong dengan volume normal terasa kurang. Perubahan #2 adalah: completely losing their mind. Negara tempat saya berpijak ini negara penuh manner dan tata krama. Dimana cuma beda umur setahun saja pun harus bicara dengan panggilan hormat atau bahasa yang lebih formal. But when it comes to this condition, those manners are vanished in a blink of an eye. Mereka nggak peduli mau ke orang yang lebih tua atau bahkan dosen sekalipun, ngomong pake volume maksimal, bahkan sempat saya dengar ada yang bilang shut up ke orang yang mestinya diajak ngomong pake bahasa kromo inggil. Funny thing is, orang-orang yang lebih tua itu sepertinya membiarkan dan menganggap itu lumrah, karena mereka sedang mabok, they were not sober so it was acceptable to behave like that. Man, that's sad.

Belum cukup menyedihkan, efek mabok ini bisa terasa sampe keesokan harinya. Istilahnya cukup kondang, I believe: hangover. Jadi ini kondisi dimana seseorang terbangun keesokan harinya setelah malam sebelumnya mabok. Dan si seseorang ini tidak ingat dengan jelas atau malah tidak ingat apa-apa sama sekali tentang apa yang terjadi semalam. So whatever inconsiderate things they might've done the night before, they don't remember, and still it would be acceptable since they're not sober. Masih belum cukup menyedihkan lagi, bagi yang fisiknya nggak cukup kuat, bisa muntah-muntah, sakit kepala, dan merasakan kehausan yang amat sangat, gara-gara kebanyakan minum. Pemaparan di sini ini semua asli penuturan peminum. Yang masih tetap minum.

Look. At this point, I really feel lucky to be a Muslim. Dimana minum itu dilarang. So I don't have a chance to lose my dignity, lose my mind. Saya beneran jijik lihat orang mabok. Nggak peduli itu temen saya sendiri, saya jijik. Ya jijik aja gitu. Pokoknya jijik. But go on, fellas, drink, drink as much as you want. I don't give a damn. But when it comes to the consequences, well, I still won't give a damn, you deserve it. :D

Loh Ul kan mabok itu kalo minumnya kebanyakan? Yah, there will always be a possibility to get drunk as long as you still drink. Sekali lagi, saya benar-benar merasa beruntung, sangaaaat beruntung..

Senin, 10 Februari 2014

Edisi Liburan: Busan, Day Three

Kalo ditanya, apa yang paling menyenangkan dari liburan ke Busan kemarin, saya bakal jawab:
1. Anget! Jauh lebih anget daripada Seoul-Incheon yang naudzubillah dinginnya.
2. Kegiatan ngasih makan burung pagi-pagi di pinggir pantai.

Nah. Seperti yang sudah saya ceritain di dua postingan sebelumnya, motel tempat saya nginep di Busan itu cuma beberapa lemparan batu dari pantai Gwanganli. Setiap pagi di pantai itu banyak burung warna putih yang hang out di situ.

Menggemaskan.
Pas saya sampe di pantai, si burung-burung masih pada ngumpul di deket air laut. Keliatan nggak sih? Kecil banget soalnya itu di fotonya.
Hari pertama dan kedua, saya belum berkesempatan ngasih makan si burung-burung tersebut properly, maka di hari ketiga saya bangun lebih pagi dan segera cabs ke pantai setelah mampir minimarket beli snack udang. Saya duduk di undak-undakan kayu, dan mulai melempar si snack yang barusan saya beli. Lemparan pertama, salah satu burung terdekat dari saya langsung nengok. Sedetik kemudian doi kayak teriak gitu, kayaknya itu manggil temen-temennya. Benar saja, seketika puluhan burung putih yang tadinya bersantai di pinggir laut terbang ke arah saya, berebut snack yang saya lempar. Buat yang penakut pasti langsung freaked out, berasa diserang sama burung-burung, tapi pada dasarnya mereka cuma cuma berebut snack aja, nggak akan nyerang yang ngelempar. Berhubung saya sibuk ngasih makan, jadi nggak ambil foto deh. Hiks. Padahal menurut temen sekamar saya yang bule Irlandia, adegan saya ngasih makan burung waktu itu spektakuler banget, sampe saya dibilang 'bird lady'.

Kamis, 06 Februari 2014

Edisi Liburan: Busan, Day Two

Hari kedua. 

Saya bangun siang berhubung sedang tidak ada kewajiban solat Subuh. Mandi, siap-siap, 9.30 kumpul di depan motel. Hari ini tur resmi dimulai! Rombongan dipecah ke beberapa taksi menuju destinasi wisata pertama: Haedong Yonggungsa. Kalo gugling sekilas sebelum berangkat sih, ini kuil yang letaknya di tepi laut. Lumrahnya di Kroya yang namanya kuil itu di bukit atau di dataran tinggi gitu, tapi yang satu ini nyeleneh. Walau demikian, justru itu yang bikin kuil ini tenar. Unik, sekaligus menghadiahi pemandangan yang worth seeing.

Setelah beberapa lama duduk manis di taksi, kami diturunkan di semacam areal parkiran tempat wisata gitu. Dalam jarak pandang saya belum keliatan bangunan kuil sama sekali. Ya semacam Prambanan atau Borobudur gitu sih, jadi depan itu tempatnya parkiran dan stand jualan street food dan souvenir. Kita mesti jalan dulu menembus aral melintang yang cukup menggoda kantong dan menggoda perut itu tadi, baru deh nyampe ke wahana utamanya.

Rame sama orang jualan.
Jualan souvenir: lonceng, gantungan-gantungan gitu, miniatur. Banyak banget yang bentuknya babi. Kata temen yang orang sini, babi itu melambangkan keberuntungan. Okey.
Yang di sini souvenir nya lebih unyu lagi, nggak cuma babi soalnya. Ada kelinci, burung, ayam, dll.
Setelah lirik-lirik souvenir kanan kiri, akhirnya kedai-kedai jualan berganti dengan patung-patung. Tandanya sudah mulai dekat dengan kuil yang kami tuju. Di sebelah kiri ada patung-patung yang melambangkan shio. Beberapa pengunjung terlihat berdoa di depan si patung-patung itu tadi. Pengunjung lainnya foto-foto dengan background shionya masing-masing. Sebelah kanan juga ada patung-patung yang entah patung apa. Nggak ada yang berdoa disitu berarti cuma penggembira aja kali ya, haha.

Rabu, 05 Februari 2014

Edisi Liburan: Busan, Day One

Weekend kemarin adalah salah satu dari dua libur besar yang bisa dinikmati oleh warga Kroya: tahun baru Cina! Atau bahasa gaulnya: lunar new year. Atau bahasa Kroyanya: Seollal. Buat orang-orang sini Seollal ini jauh lebih populer dan semarak dibanding event new year nya kalender Masehi. Biasanya pas liburan Seollal, orang-orang mudik ke kampung halaman, sowan ke keluarga dan sanak saudara. Pas hari H nya, pada pake baju adat Kroya yang super tenar itu, Hanbok, terus berkunjung ke kuil-kuil untuk berdoa minta rejeki di tahun baru.

Lalu sebagai mahasiswa galau di perantauan, apa yang saya lakukan di liburan Seollal kemarin? Liburnya lumayan panjang, mulai Kamis sampai minggu. Pada awalnya saya berniat membathang sepuasnya di kamar, beli KFC one bucket buat dimakan sendirian kemudian maraton film dan series sampe muak. Tapi tak dinyana ada temen ngajakin ikut tur ke Busan. Doi nemu tur ini di salah satu grup fesbuk. Harga paketnya 160ribu won, mencakup penginapan untuk tiga malam, transport pulang pergi, dan tur selama dua hari. Tapi urusan makan bayar sendiri lagi. Karena cukup menarik dan feasible dari segi isi kantong, membathang pun tinggal wacana. Cabutlah saya dan si temen ke Busan.

Kami berangkat dari Seoul jam 11 malem, hari Rabu, naik bis pariwisata. Saya sempet suudzon bakal macet parah gara-gara ada arus mudik Seollal, tapi salah besar ternyata. Lancar jaya! Seoul-Busan normalnya (katanya) 5 jam, waktu itu perjalanan cuma 5,5 jam. Sampe Busan baru setengah lima pagi, kami serombongan langsung ke motel, bagi-bagi kunci kamar. Btw saya dan si temen dapet kamar yang sekamarnya empat orang, room mate kami dua cewek bule, satu asal Amrik, satunya orang Irlandia. Lumayan banget ini liburan sambil sekalian mengasah ilmu conversation in English! Nggak usah pake les!

Pintu depan motel. Motelnya sederhana tapi nyaman! Kasurnya anget, ada tivi, ada hair dryer, ada alat buat masak air, kamarmandi pake air anget, disediain gayung, top deh.
Setelah melanjutkan bobok barang beberapa jam, saya dan si teman bangun dan cabs jalan-jalan keluar. Motel tempat kami nginep ini cuma beberapa(?) lemparan batu dari pantai Gwanganli, salah satu dari beberapa pantai yang ada di Busan. Pantai yang satu ini tenar gara-gara menghadap langsung ke jembatan Gwangan, jembatan yang dibangun di atas laut. Pantainya nggak terlalu lebar, tapi cukup panjang, mayan banget kalo buat jalan-jalan.

Pantai Gwanganli. Itu di seberangnya keliatan jembatan Gwangan.

Sabtu, 07 Desember 2013

Random Edition: Berburu Pecel Lele di Ansan

Hari ini saya sukses melakukan suatu ke-random-an. Saya janjian sama senior saya yang berdomisili Geumjeong, untuk makan di salah satu restoran Indonesia di Ansan. Janjian ketemunya di stasiun Ansan. Oke deal. Akhirnya selepas asar saya meluncur naik subway ke Ansan. Ansan itu dimana?

Okey. Mari kita tinjau crop-cropan peta jalur subway di bawah ini:


Pada peta di atas,stasiun terdekat dari asrama saya adalah Campus Town. Saya naik dari situ, ganti angkot kereta di Woninjae. Teruuus sampe ujung Suin Line, turun di Oido, ganti lagi, terus turun di Ansan. Perjalanan kurang lebih makan waktu 40an sampe 50an menit. Si senior saya rumahnya di Geumjeong. Kalo mau ke Ansan palingan setengah jam juga nyampe. Begitulah.

Pada jam yang telah disepakati, saya nyampe di stasiun Ansan. Ini kedua kalinya saya ke situ. Pertama kalinya saya ke Ansan, tujuannya juga sama, cari resto Indonesia. Kenapa sih kalo cari resto Indonesia carinya ke Ansan? Ansan itu pemirsa, banyak orang Indonesia nya. Banyak TKI di sana, soalnya memang juga kawasan industri. Ngga heran kalo ada beberapa restoran yang memang khusus jual masakan Indonesia. Ngga cuma orang Indonesia, orang asing dari negara lain juga banyak banget di Ansan. Pokoknya begitu keluar stasiun subway, pemandangannya langsung heterogen. Ngga melulu muka-muka sipit kulit putih nya orang Korea, tampang Melayu sampe tampang Arab dan India pun bertebaran.

Nah. Waktu pertama kali saya ke Ansan itu ada sedikit pengalaman agak menarik. Pas mau naik subway dari Woninjae ke Oido, saya diajak ngobrol sama orang. Laki-laki. Dari mukanya, tipe-tipe India gitu lah. Mirip sama Raj Koothrapali yang di The Big Bang Theory. Dia ngajak ngobrolnya awalnya pake Korea.

"Mau pergi kemana?"
"Ke Ansan"
"Oh sama, saya juga"
"Hoo"
"(nanyain kerja dimana, tapi waktu itu saya ngga mudeng)"
"Ya?"